Analis politik, Agus Wahid, memberikan pandangannya terkait dinamika politik nasional setelah pemerintahan Prabowo-Gibran berjalan sekitar satu tahun. Menurutnya, kondisi Indonesia masih dihadapkan pada permasalahan sosial, ekonomi, dan hukum yang serius. Sementara itu, upaya untuk mempertahankan kekuasaan keluarga Presiden ke-7 RI, Jokowi, melalui kendaraan politik baru semakin marak.
Agus menjelaskan bahwa Indonesia masih berada dalam krisis multidimensi yang belum terselesaikan. Meskipun demikian, munculnya gerakan politik yang terus menguat menunjukkan dorongan untuk mempercepat kontestasi politik nasional. Gerakan politik tersebut terlihat semakin agresif dan terbuka, bahkan mengubah logo partai sebagai simbol ambisi kekuasaan.
Menurut Agus, PSI menjadi salah satu fokus utama gerakan politik ini, dengan klaim basis utama partai di Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan. Ambisi PSI ini tidak lepas dari peran aktif Jokowi dalam mendukung pertumbuhan dan eksistensi partai tersebut. Meskipun demikian, respons masyarakat terhadap upaya memperbesar PSI cenderung sinis, terutama melihat kondisi fisik Jokowi yang semakin menurun.
Agus menyebut bahwa ambisi politik Jokowi menunjukkan ketidakrelaannya kekuasaan berakhir sesuai konstitusi pada 1 Oktober 2024. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar terkait arah politik keluarga Jokowi, apakah tujuannya untuk melancarkan Gibran sebagai presiden ke-9 atau mengantarkan adiknya sebagai pemimpin baru di parlemen.












