Dampak Tidak Langsung Duduk Setelah Makan Terhadap Gula Darah dan Berat Badan

Setelah makan, dorongan untuk duduk atau berbaring memang cukup kuat, apalagi jika makanannya berat. Melawan rasa kantuk atau food coma yang membuat tubuh terasa lamban dan mengantuk itu cukup sulit. Memang, duduk atau bersantai setelah makan terasa nyaman, tapi dari sisi kesehatan, kebiasaan sederhana ini justru bisa menimbulkan masalah jangka panjang.

Dokter endokrinologi asal New Jersey, Dr. Alessia Roehnelt, membahas kebiasaan umum duduk setelah makan ini. Dalam sebuah unggahannya di Instagram pada 2 Januari, ia menjelaskan alasan klinisnya dan mengungkap apa yang terjadi pada tubuh jika langsung duduk setelah makan. Ia menekankan bahwa kelompok tertentu, seperti orang dengan pra-diabetes, diabetes, atau resistensi insulin, akan sangat diuntungkan jika bisa menghentikan kebiasaan yang tampak sepele tapi berbahaya ini.

Alasan tidak duduk setelah makan seperti diberitakan oleh laman Hindustan Times, Senin 2 Februari 2026, antara lain karena membantu pencernaan. Kebiasaan tidak bergerak setelah makan tidak dianjurkan. Sedikit bergerak, seperti berjalan sebentar, bisa membantu tubuh mencerna makanan lebih baik. “Berjalan setelah makan membantu mengatasi gangguan pencernaan karena merangsang perut dan usus untuk memproses makanan lebih cepat, sehingga bisa mengurangi perut kembung, gas, dan rasa berat setelah makan,” kata Roehnelt.

Biasanya, setelah makan berat, perut kembung dan asam lambung naik, sehingga banyak orang langsung minum antasida. Tapi berjalan sebentar bisa mengurangi ketergantungan berlebihan pada obat-obatan tersebut, karena tubuh bisa mengatasi masalah ini secara alami. Selain itu, berjalan setelah makan juga berdampak pada pengelolaan gula darah. Saat berjalan, otot-otot aktif, dan mereka sangat berperan dalam menjaga kadar gula tetap stabil. Berjalan setelah makan memberi sinyal pada otot untuk langsung menyerap glukosa tanpa harus menunggu insulin. Kalau langsung duduk setelah makan, glukosa akan tetap berada dalam darah lebih lama, yang berarti lonjakan gula dan insulin lebih tinggi. Ini penting bagi mereka yang memiliki sensitivitas insulin, seperti orang dengan resistensi insulin, diabetes, atau pra-diabetes, karena berjalan dapat membantu mengatur lonjakan gula darah lebih baik.

Source link