Bulan Sya’ban 1447 Hijriah dalam kalender masehi jatuh pada awal tahun 2026. Sebagai bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriah, Sya’ban memiliki kedudukan istimewa sebagai bulan penyucian diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Sya’ban adalah bulan di mana manusia sering lalai. Padahal di dalamnya terdapat rahasia keagungan yang luar biasa. Secara bahasa, kata “Sya’ban” berasal dari akar kata Syi’b yang berarti jalan di gunung atau lembah. Nama ini diberikan karena pada masa lalu, orang-orang Arab pada bulan ini berpencar (tasy’aba) ke berbagai penjuru untuk mencari air atau melakukan ekspansi perdagangan setelah selesainya bulan Rajab yang tergolong bulan haram.
Secara filosofis, Sya’ban bermakna bulan di mana berbagai kebaikan memancar dan bercabang-cabang. Inilah waktu saat pintu-pintu keberkahan dibuka lebar sebagai persiapan bagi mereka yang ingin memanen pahala di bulan Ramadan. Berdasarkan kalender Hijriah global dan perkiraan hisab, beberapa tanggal penting yang perlu dicatat oleh umat Muslim di tahun 2026 adalah 1 Sya’ban 1447 H yang jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026, Ayyamul Bidh Sya’ban (13, 14, 15 Sya’ban) jatuh pada 1, 2, dan 3 Februari 2026, serta lain sebagainya. Bulan Sya’ban juga menyimpan memori sejarah penting dalam peradaban Islam seperti perpindahan arah kiblat, pengangkatan amal tahunan, dan turunnya ayat perintah berselawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Para ulama menganjurkan beberapa amalan sunnah di bulan Sya’ban, antara lain memperbanyak puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, membayar utang puasa, dan melakukan istighfar dan taubat. Selain itu, bulan ini juga disebut sebagai Syahrus Sholawat (Bulan Selawat) karena turunnya ayat perintah berselawat. Sya’ban 2026 harus dipandang sebagai “Mental Conditioning Period” untuk menyinkronkan resolusi tahun baru dengan target spiritual tahunan. Dengan memahami maknanya, Sya’ban 1447 H diharapkan menjadi landasan pacu untuk meraih gelar takwa yang hakiki sebelum memasuki bulan Ramadan.












