Dalam sebuah pidato yang disiarkan di televisi pada Sabtu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyerukan tindakan keras “tanpa kompromi” terhadap pihak-pihak yang dianggap sebagai penghasut dalam gelombang unjuk rasa yang mengguncang Iran belakangan ini. Khamenei menuding adanya “konspirasi Amerika” di balik kerusuhan tersebut, sementara laporan korban tewas dan penangkapan masih dalam keadaan simpang siur karena pembatasan internet.
Aksi protes yang bermula dari ketidakpuasan publik terhadap tekanan ekonomi telah berkembang menjadi demonstrasi terbesar terhadap Republik Islam Iran dalam beberapa tahun terakhir. Namun, unjuk rasa tersebut dikabarkan mereda setelah penindakan keras yang disebut telah menewaskan ribuan orang oleh kelompok hak asasi manusia.
Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak berniat memperluas konflik menjadi perang, namun menolak memberikan toleransi kepada pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kerusuhan. Ia menyinggung jumlah korban jiwa yang jatuh selama protes tersebut dan mengutuk kekejaman yang terjadi.
Pemerintah Iran kembali menyalahkan Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik gelombang protes dan menuding kedua negara tersebut memanfaatkan kemarahan publik terhadap masalah ekonomi untuk tujuan yang tidak benar. Khamenei juga secara langsung mengkritik Presiden AS Donald Trump.
Meskipun adanya usaha dari Washington untuk meredakan ketegangan, Namun Trump tidak menutup opsi militer dan terus memantau situasi terkait penindakan terhadap pengunjuk rasa. Berbagai angka terkait jumlah penangkapan terkait protes tersebut juga masih diperdebatkan, dimana kelompok hak asasi manusia memperkirakan angkanya mencapai puluhan ribu orang.
Sementara itu, kekhawatiran internasional terus tumbuh karena pembatasan internet yang sulit diverifikasi jumlah korban tewas secara akurat. Pendapat terkait jumlah korban jiwa pun beragam, dari 3.428 hingga mencapai 20.000. Pelaporan konektivitas internet yang masih terputus menambah kerumitan situasi di lapangan.












