Administrasi Presiden Donald Trump menetapkan beberapa tuntutan keras yang harus diikut oleh Venezuela agar bisa memulihkan produksi minyak mereka. Tuntutan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, kepada Presiden interim Venezuela, Delcy Rodriguez. AS menekankan agar Venezuela memutus hubungan diplomatik dan ekonomi dengan negara-negara sekutu lamanya seperti Tiongkok, Iran, Rusia, dan Kuba. Sebagai gantinya, Venezuela diminta untuk bermitra eksklusif dengan Amerika Serikat dalam pengelolaan produksi minyak.
Selain itu, Rodriguez juga diminta untuk memberikan prioritas kepada perusahaan minyak AS dalam penjualan minyak di masa depan. Langkah ini diambil setelah penangkapan Nicolás Maduro pada akhir pekan lalu. Pejabat terkait meyakini Venezuela hanya bisa bertahan ekonominya beberapa minggu tanpa bergantung pada penjualan cadangan minyaknya.
Marco Rubio menegaskan bahwa uang dari penjualan minyak Venezuela akan dikendalikan oleh pemerintah AS dan disalurkan untuk keuntungan rakyat Venezuela, bukan untuk korupsi. Pemerintah AS merencanakan tiga fase utama untuk masa depan Venezuela yaitu stabilisasi, pemulihan, dan transisi. Meskipun pemilu yang jujur, pembebasan tahanan politik, dan pemberantasan geng narkoba tetap menjadi agenda, prioritas utama saat ini adalah mengusir musuh asing dari Caracas dan mengamankan kerja sama penjualan minyak.
Presiden Trump dijadwalkan bertemu dengan eksekutif perusahaan minyak besar di Gedung Putih untuk membahas serah terima 30 hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi dari Venezuela. Langkah ini merupakan bagian dari visi Trump untuk mendominasi belahan bumi Barat dengan menjadikan Venezuela sebagai langkah awal yang paling krusial.












