Riset terbaru menemukan bahwa ekspansi titik panas laut dalam menjadi pemicu munculnya badai monster di atas Kategori 5, yang menyebabkan ilmuwan mengusulkan adanya klasifikasi baru “Kategori 6”. Fenomena titik panas di samudera dalam kini menjadi ancaman baru bagi populasi pesisir dunia. Peneliti menyoroti perluasan wilayah air hangat ini, terutama di Pasifik Barat dekat Filipina dan Atlantik Utara di sekitar Karibia, yang telah menyebabkan siklon tropis yang kekuatannya melebihi Kategori 5 muncul lebih sering. Wilayah titik panas laut dalam telah meluas, menurut I-I Lin, seorang profesor di Departemen Ilmu Atmosfer National Taiwan University.
Berdasarkan skala Saffir-Simpson, badai apa pun dengan kecepatan angin di atas 137 knot termasuk dalam Kategori 5. Namun, Lin mengusulkan klasifikasi “Kategori 6” untuk siklon tropis dengan kecepatan angin melebihi 160 knot. Penambahan kategori ini dianggap lebih konsisten dengan rentang klasifikasi yang ada dan penting untuk meningkatkan kesadaran publik serta perencanaan bencana. Beberapa badai dahsyat yang memenuhi kriteria Kategori 6 termasuk Topan Haiyan di Filipina pada tahun 2013, Topan Hagibis di Tokyo pada tahun 2019, dan Badai Wilma pada tahun 2005.
Peneliti menemukan bahwa lapisan panas yang menembus ke bawah permukaan laut memainkan peran kunci dalam kekuatan badai ekstrem, dengan air hangat yang tersedia di kedalaman yang dapat menyuplai energi bagi badai. Sebuah studi menyatakan bahwa perubahan iklim akibat ulah manusia bertanggung jawab atas sekitar 60-70% perluasan titik panas ini. Sementara itu, keberadaan titik panas laut dalam juga diperlukan untuk terbentuknya badai raksasa. Pengakuan resmi terhadap Kategori 6 diharapkan dapat membantu pemerintah dan komunitas di seluruh dunia untuk lebih siap menghadapi dampak destruktif dari sistem cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi ini.












