Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Helvi Moraza menekankan pentingnya penguatan ekosistem usaha, konektivitas rantai pasok, serta digitalisasi layanan agar UMKM mampu menjadi kekuatan utama perekonomian nasional. Menurutnya, UMKM sering menghadapi keterbatasan akses pasar, sementara industri besar memerlukan pasokan produk yang dapat dipenuhi oleh UMKM. Program Holding UMKM dirancang untuk mengatasi ketimpangan hubungan antara UMKM dan industri besar dengan menciptakan efisiensi biaya produksi, menjamin stabilitas pasokan, dan meningkatkan kapasitas UMKM agar produknya memiliki daya saing di pasar domestik dan global.
Holding UMKM Expo 2025 di SMESCO Indonesia, Jakarta, merupakan upaya untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan nilai tambah produk melalui hilirisasi, sertifikasi, penguatan merek, dan pemanfaatan skema pembiayaan inovatif. Program ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti asosiasi, lembaga pembiayaan, dan badan standardisasi, untuk membangun kolaborasi berkelanjutan melalui skema Holding UMKM.
Kementerian UMKM juga meluncurkan Buku Putih Holding UMKM sebagai panduan jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan. Melalui model kemitraan berbasis klaster, UMKM diharapkan dapat menjadi lebih produktif dan berkontribusi dalam ekonomi berbasis industri. Target peluncuran Holding UMKM lainnya seperti Klaster Industri Olahraga, Klaster Pertambangan dan Energi Terbarukan, serta Klaster Kesehatan dan Kecantikan pada 2026 diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produksi UMKM.
Dalam upayanya, Kementerian UMKM telah melakukan proses identifikasi, seleksi, dan pendalaman lapangan terhadap usaha menengah yang memiliki kesiapan kelembagaan, kapasitas produksi, dan tata kelola usaha untuk berperan sebagai operator Holding UMKM. Melalui kerjasama antara pemerintah, perbankan, BUMN, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya, diharapkan UMKM akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang tangguh dan berkelanjutan.












