Wacana pembatasan game (PUBG) kembali mencuat setelah insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta. Pihak-pihak berbeda mempertanyakan apakah pembatasan game merupakan solusi yang tepat, dan dalam diskusi tersebut, seorang pakar psikologi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memberikan peringatan agar kebijakan diambil dengan hati-hati dan didasarkan pada data yang kuat.
Insiden ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, telah memicu polemik nasional tentang pengaruh game perang seperti PUBG pada perilaku remaja. Pemerintah sedang mempertimbangkan langkah-langkah regulasi game berbasis senjata api untuk mencegah potensi pengaruh negatif pada generasi muda. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto mendukung upaya pembatasan.
Sebuah peringatan diberikan oleh Prof. Dr. Suciati dari Psikologi Pendidikan Islam UMY, bahwa mengambil kebijakan pembatasan PUBG sebagai reaksi terhadap insiden di SMAN 72 bisa tergesa-gesa dan tidak selalu tepat. Mengaitkan ledakan tersebut langsung dengan game dan menyimpulkan bahwa kecanduan PUBG adalah penyebabnya memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Menurut beliau, penelitian lebih dalam tentang faktor sosial, psikologis, dan lingkungan diperlukan sebelum secara langsung menghubungkannya dengan game.
Prof. Suci juga menegaskan bahwa game seperti PUBG tidak selalu berdampak negatif, dan seringkali aspek positifnya terabaikan. Banyak penelitian telah menunjukkan manfaat permainan digital dalam meningkatkan konsentrasi, kemampuan visual-spasial, koordinasi mata-tangan, serta membantu mengurangi stres.












